Home Entertainment Lagi Live Tanpa Busana, Selebgram Ini Tak Berkutik saat Polisi Gedor Pintu...

Lagi Live Tanpa Busana, Selebgram Ini Tak Berkutik saat Polisi Gedor Pintu Apartemen : Pamer Aurat

Satuan Reskrim Polresta Denpasar menggerebek seorang selebgram wanita berinisial RR (32).

RR alias Kuda Poni yang beralamat di Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali diamankan petugas kepolisian di apartemen Kubu Residence, Jalan Taman Pancing, Denpasar sekitar pukul 02.00 wita.

Hal tersebut diungkapkan Kombes Pol Jansen Avitus Panjaitan selaku Kapolresta Denpasar.

“R alias kuda poni ini, diamankan di TKP apartemen Kubu Residence, di Jalan Taman Pancing, Denpasar sekitar pukul 02.00 wita,” jelas Jansen.

Menurut Kapolresta Denpasar, kejadian penggerebakan ini sebelumnya bermula tentang adanya informasi adanya live secara vulgar.

Petugas kepolisian yang mengetahui hal tersebut, langsung mencari keberadaan RR.

Ketika digerebek, petugas mendapati selebgram ini tengah live tanpa busana.

Selebgram yang memiliki paras cantik dan putih ini memperlihatkan kemolekan tubuhnya melalui aplikasi Mango Live yang diikuti ribuan pengikutnya tersebut.

Begitu polisi datang, selebgram ini terperangah kaget langsung buru-buru mengenakan pakaiannya.

Kemudian, RR diamankan anggota Sub Unit 4 Reskrim Polresta Denpasar lantaran mempertontonkan secara live tubuhnya tanpa sehelai pakaian.

“Saat si pelaku live, langsung kita lakukan penangkapan dalam keadaan telanjang bulat atau bugil di medsos Mango tersebut,” ungkap Jansen.

Konten pornografi ini dilakukan RR secara live di aplikasi mango pada jumat 17 September 2021 pukul 02.00 wita di wilayah Denpasar Selatan.

“Jadi modusnya pelaku sebagai selebgram, dikenal bernama KP alias Kuda Poni alias Bintang live.

Dia melalui media sosial mempertontonkan aurat, telanjang bulat secara live pada media sosial Mango,” ujar Kombes Pol Jansen Avitus Panjaitan, Senin(20/9/2021).

Barang bukti yang berhasil diamankan berupa dua HP Iphone beserta sim card milik pelaku, kursi, pakaian pelaku, mainan menyerupai alat kelamin dan kartu ATM milik pelaku.

Setelah ditangkap polisi, selebgram berinisial RR akhirnya diperlihatkan ke awak media di lobby depan Polresta Denpasar pada Senin 20 September 2021 siang.

Perempuan berusia 32 tahun asal Cianjur, Jawa Barat ini dihadiri dalam pers rilis pengungkapan kasus pornografi.

Kepada polisi, RR mengaku tidak hanya sekali mempertontonkan tubuh seksinya secara bugil.

Pihak kepolisian menerangkan jika RR telah sekian kali melakukan video live bugil melalui aplikasi Mango Live.

Pengakuan RR yang diringkus petugas kepolisian Polresta Denpasar, perempuan berambut hitam tersebut ternyata sudah melakukan aksi itu selama 9 bulan.

Dari pekerjaannya itulah, selebgram itu meraup uang mulai dari Rp 25 juta hingga Rp 50 juta per bulannya.

Tak hanya itu, setiap kali RR melakukan live melalui aplikasi Mango Live, ia mendapat keuntungan atau hasil hingga Rp1,5 juta.

“Pelaku sebagai selebgram secara terang terangan melakukan live mempertontonkan aurat melalui aplikasi Mango.

Pelaku mengakui sudah melakukan kegiatan ini sudah selama Sembilan (9) bulan dengan penghasilan 25-50 juta perbulan,” ungkap Kapolresta Denpasar.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pelaku selain memiliki akun di aplikasi Mango dan Bigo untuk mencari penghasilan memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Meski begitu, pelaku mengaku dirinya tidak menerima bo (booking order) dan hanya melakukan live.

“Saya tidak open BO, cuma Live aja,” ujar pelaku.

Pasal yang disangkakan terhadap pelaku pasal 4 ayat (1) UU No 44 Tahun 2008 tentang pornorafi dan atau pasal 45 ayat (1) UU No 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE Diancam dengan pidana penjara paling lama 12 tahun.

Sosiolog Angkat Bicara

Peristiwa ini kemudian mendapat sorotan dari Sosiolog Universitas Udayana Bali, Wahyu Budi Nugroho.

Sosiolog ini menilai bahwa masyarakat dunia telah melalui tiga revolusi besar dalam sejarah, yaitu revolusi pertanian, revolusi industri, dan kini yang sedang terjadi: revolusi ekonomi-informasi.

“Era ekonomi-informasi saat ini memang memberikan kemudahan dalam transaksi ekonomi. Hal inilah yang turut mendorong munculnya berbagai usaha ekonomi secara digital (e-commerce),” ujar Wahyu kepada Tribun Bali, Sabtu 18 September 2021.

Namun demikian, lanjut Wahyu, era ekonomi-informasi ini juga menyimpan berbagai sisi negatif.

Salah satunya adalah kerentanan pihak-pihak yang memanfaatkan kemudahan transaksi untuk memperoleh keuntungan dengan cara-cara yang menyalahi nilai, norma, dan budaya sosial, dengan kasus RR contohnya.

Dalam kajian sosiologis, dijelaskan Wahyu, kasus ini menunjukkan betapa teknologi kehilangan sentuhan kemanusiaan, sehingga justru berdampak pada degradasi atau menurunnya nilai-nilai kemanusiaan.

“Seperti penggunaan dunia maya untuk menyebarkan berikut mempertontonkan hal-hal berbau pornografi dan pornoaksi misalnya,” tuturnya.


Bagi masyarakat Barat, pekerjaan yang dilakoni RR mungkin tak dipersoalkan, karena memang masyarakat Barat bercorak liberal dan individualis.

“Artinya, selama pekerjaan individu itu tidak mengganggu dan merugikan pihak lain, maka itu tak jadi soal. Tetapi bagi masyarakat kita yang masih memegang teguh nilai, norma, dan budaya sosial, tentu ini menjadi persoalan,” kata dia.

Di sisi lain, penilaian moralitas kita seyogyanya tidak hanya tertuju pada RR, tetapi juga pada para laki-laki yang sengaja menggunakan dunia maya untuk hiburan semacam itu—berbau pornografi dan pornoaksi.

“Kasus RR ini kiranya menjadi cermin tantangan nilai, norma, dan budaya sosial yang tengah kita hadapi saat ini. Apabila dahulu sosialisasi atau pewarisan nilai, norma, dan budaya sosial cenderung bersifat liniear, dalam arti dari kakek-nenek, orangtua, lalu ke anak cenderung berada dalam lingkup keluarga,” ucap Wahyu.

Dosen Sosiologi itu menyambung, di era globalisasi, wujud sosialisasi cenderung “meloncat” di mana keluarga dan masyarakat tak lagi menjadi satu-satunya sumber sosialisasi nilai, norma, dan budaya sosial melainkan pula, dan terutama kini bahkan, media dari berbagai belahan dunia.

“Inilah yang seringkali menyebabkan keterbelahan identitas sosial, yang juga berpengaruh pada cara individu bersikap atau bertindak,” pungkasnya. (*)

TRIBUNNEWSBOGOR.OM